ASPEK KELESTARIAN

Kelola Lingkungan

Perhatian terhadap aspek lingkungan secara umum berangkat dari kesadaran perusahaan bahwa kegiatan pembangunan hutan tanaman menimbulkan suatu perubahan rona lingkungan awal dari suatu areal dan menimbulkan dampak penting (potensial) baik yang bersifat positif maupun negatif. Terhadap dampak negatif dilakukan pemantauan dan pengelolaan agar dapat ditanggulangi dan dikendalikan semaksimal mungkin. Sementara itu dampak positifnya harus ditingkatkan. Adanya dampak penting tersebut pada tahap awal diketahui dari hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang telah disusun oleh PT. Arara Abadi.


I. Bentuk Pengelolaan Lingkungan
Kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan di PT. Arara Abadi dilaksanakan pada 3 kelompok areal, yaitu :


1. Areal Kawasan Lindung
Kawasan lindung yang terdapat di areal PT. Arara Abadi dibagi dalam beberapa fungsi, yaitu sebagai Sempadan Sungai, Buffer zone, Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN), Pusat latihan Gajah (PLG), Arboretum, Native Resourch (NR) dan Daerah Pengungsian Satwa Liar (DPSL). Kegiatan pengelolaan kawasan lindung yang telah dilakukan adalah pemasangan batas, pemasangan papan peringatan, pengayaan atau penanaman untuk kegiatan rehabilitasi, inventarisasi dan identifikasi flora dan fauna, serta kegiatan patroli pengamanan kawasan lindung.

 

Foto – Foto Kegiatan Pengelolaan Kawasan Lindung PT. Arara Abadi

 

Areal kawasan lindung yang berada di PT. Arara Abadi terbagi menjadi 2 tipe hutan, yaitu tipe hutan rawa gambut, dan hutan dataran rendah. Kedua tipe hutan tersebut memiliki tingkat kenekaragaman hayati yang tinggi.

 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh internal PT. Arara abadi menunjukah bahwa pada areal kawasan lindung hutan dataran rendah teridentifikasi jenis tumbuhan yang relatif mempunyai kelimpahan yang cukup baik, seperti : Bintangur (Calophyllum soulattri), Jelutung (Dyera costulata), Kempas (Koompasia malaccensis), Arang-arang (Diospyros oblongus), Kulim (Scorodocarpus borneensis), dan keruing (Dipterocarpus indicus). Sedangkan untuk hutan rawa gambut, teridentifikasi jenis tumbuhan dengan tingkat kelimpahan relatif baik, seperti : Meranti bunga (Shorea teysmanniana), Suntai (Palaquium burkii), Punak (Tetramerista glabra), dan Ramin (Gonystylus bancanus).


Selain dengan banyaknya kelimpahan dari jenis tumbuhan, di areal kawasan lindung PT. Arara Abadi juga ditemukan satwa liar yang berada dalam status dilindungi, baik dalam CITES, IUCN, maupun peraturan nasional.


Jenis-jenis Satwa Dilindungi di Areal PT. Arara Abadi


Penilaian Nilai Konservasi Tinggi (NKT)
Penilaian NKT di areal PT. Arara Abadi sudah dilakukan pada tahun 2014 oleh APCS Konsultan. Dari hasil identifikasi di lapangan dapat diketahui nilai-nilai konservasi yang terdapat atau tidak ada padakawasan-kawasan hutan yang ada di dalam unit manajemen yaitu:

 

 

Hasil rangkuman eksekutif hasil penilaian PT. Arara Abadi dapat ditemukan pada tautan ini.

 

Pengelolaan Kawasan Lindung/Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi
Berdasarkan komitmen perusahaan terhadap lingkungan, terdapat beberapa kegiatan pengelolaan dan pemantauan Kawasan Lindung yang sudah dilakukan antaranya yaitu :

 

 

2. Areal Tidak Efektif Untuk Produksi
Merupakan kawasan produksi yang dialokasikan sebagai areal tanaman unggulan, tanaman kehidupan, sarana prasarana, dan kebun benih. Pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan berupa :

  • Penggunaan pupuk dan pestisida sesuai dengan rekomendasi hasil penelitian dan peraturan pemerintah
  • Pemantauan kualitas air dan penggunaan zat kimia secara terkendali di bagian nursery
  • Perawatan kanal secara tertutup untuk mengurangi terlepasnya bahan organik
  • Kegiatan perawatan jalan untuk sarana transportasi di areal tanah mineral
  • Pemantauan kualitas air sungai

 

3. Areal Efektif Untuk Produksi
Merupakan kawasan produksi yang dialokasikan sebagai areal tanaman pokok. Pada areal efektif untuk produksi dilakukan kegiatan pengelolaan dan pemantauan seperti pemberian pupuk sesuai rekomendasi, penebangan sesuai dengan blok RKT berjalan, persiapan lahan dengan tidak membakar sisa tebangan, pemasangan pal untuk batas petak, pemantauan sifat fisik-kimia tanah, monitoring hama-penyakit tanaman, pengamatan/pengukuran PUP, dan pengendalian kebakaran lahan.Secara umum sasaran/kegiatan yang telah dikelola dan dipantau pada masing-masing areal dapat dilihat pada tabel dibawah ini:


 


II. Fire Management
Areal konsesi PT. Arara Abadi terbagi menjadi dua zona yaitu zona mineral dan zona basah (Gambut). Potensi bahaya kebakaran hutan di areal kerja tergolong besar. Hal ini disebabkan oleh faktor iklim, kondisi lahan, dan faktor sosial. Dari faktor iklim dan kondisi lahan, walaupun secara makro areal kerja beriklim sangat basah, namun secara mikro (harian) memungkinkan kondisi kering yang beturut-turut selama beberapa hari. Hal ini cukup untuk membuat serasah dan gambut bagian atas untuk kering dan mudah terbakar.

 

Dari segi sosial, masyarakat yang sebagian diantaranya masih menerapkan sistem pembakaran untuk membuka lahan pada musim kemarau juga membawa potensi kebakaran. Potensi ini menjadi lebih besar lagi karena terdapat bagian areal hutan tanaman yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Oleh sebab itu, PT. Arara Abadi melakukan pendekatan-pendekatan secara sosial maupun secara teknis dilapangan.


PT. Arara Abadi memiliki Komitmen yang sangat serius terkait Kebakaran Hutan dan lahan, baik itu kebakaran yang terjadi didalam kawasan konsesi atau pun diluar kawasan konsesi yang diimplementasikan dalam sebuah Kebijakan Pencegahan KARHUTLA sebagai berikut:

 

  1. Mematuhi semua peraturan perundangan yang terkait pencegahan kebakaran lahan dan hutan.
  2. Konsisten terhadap pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dalam semua tahapan kegiatan pembangunan hutan tanaman.
  3. Melakukan perlindungan areal konsesi perusahaan dari bahaya kebakaran untuk memastikan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang dan kelestarian sumber daya alam.
  4. Secara terus menerus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan peralatan untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.Secara aktif melibatkan semua karyawan, mitra kerja serta masyarakat di sekitar konsesi perusahaan untuk terus menerus melakukan pencegahan kebakaran lahan dan.

 

Selain dari kebijakan tersebut, untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan disekitar wilayah konsesinya, ASIA PULP & PAPER (APP) dan Sinarmas Forestry merancang sebuah sistem terintegrasi yang disebut dengan Integreted Fire Management (IFM). Terdapat 4 pilar utama dalam IFM ini, yaitu:


1. Pencegahan

  • Program DMPA : Landasan utamanya adalah dengan memanfaatkan bidang agroforestri, masyarakat diarahkan dan dibina untuk berdaya dan sejahtera secara sosial-ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya (alam dan manusia) yang sesuai dengan potensi dan karakteristik lokal.
  • Tata Kelola Air : Untuk mengurangi resiko kebakaran dilahan gambut APP dan SMF Group bekerjasama dalam memperbaiki tata kelola lahan gambut dengan cara menaikkan ketinggian air dikanal perimeter konsesi.
  • Insentif untuk Masyarakat Peduli Api (MPA) : Mengikut sertakan masyarakat sekitar konsesi HTI untuk melakukan patroli pencegahan kebakaran, selain sejumlah uang, masyarakat juga diberikan insentif berupa peralatan dan pelatihan dalam pemadaman kebakaran.

 

2. Persiapan

  • Incident Command System (ICS) : Merupakan perangkat/sistem yang mengatur garis komando, perencanaan, operasi, logistik, dan administrasi dalam sebuah situasi darurat.
  • Situation Room Center (SRC) : Ruang kontrol yang melakukan deteksi dini kebakaran secara real time 24 jam non-stop diwilayah konsesi SMF Group melalui pengolahan data dari citra satelit yang diverifikasi oleh petugas lapangan.
  • Pemetaan Jalur Patroli : Intensitas patroli disesuaikan dengan informasi tentang potensi kebakaran dari situation room dan panduan FDRS dari gabungan data cuaca, angin, dan kelembaban udara.
  • Kesiagaan RPK : Sebanyak 2700 personel RPK yang telah tersertifikasi Manggala Agni senantiasa bersiaga di 266 pos pantau, tim RPK juga dilengkapi dengan 500 unitmobil patroli, 160 unit mobil pemadam kebakaran, dan 1150 unit pompa air.

 

3. Deteksi Dini

  • Deteksi Wilayah Kebakaran: Deteksi dilakukan oleh tiap distrik diwilayah konsesi berdasarkan informasi yang didistribusikan oleh Situation Room. Hal ini untuk memastikan apakah hotspot tersebut adalah titi apai atau bukan, maka petugas mengecek langsung kelapangan.
  • Citra Thermal : Alat ini digunakan untuk mendeteksi titik titik api dilahan gambut. Bekerja dengan menangkap perbedaan suhu ekstrim dipermukan tanah. Begitu panas terdeteksi, maka sistem akan mengirimkan data real yang kemudian disatukan dalam petak konsesi sehingga lokasi titik apai akan langsung terlihat disistem.
  • Pemantauan dari Ketinggian : Dilakukan melalui Menara Api yang tersebar di 80 titik dengan ketinggian kurang lebih 30 meter.

 

4. Respon Cepat

  • Komando dan Kontrol : Manajemen terpadu dalam menghadapi situasi darurat, dari mulai pihak Situation Room, Logistik peralatan, petugas RPK dilapangan, semua bergerak mengikuti garis komando yang telah ditetapkan.
  • RPK : Tim RPK secara intensif akan melakukan upaya pemadaman secara bergantian tanpa mengenal libur. Jika lokasi sulit dijangkau melalui jalan darat, akan dikirimkan tim pemadam kebakaran menggunakan helikopter.
  • Helikopter Water-boombing : Untuk menjangkau wilayah yang lebih sulit secara geografis, disediakan helikopter biasa 3 unt, dan helikopter besar jenis Super Puma 3 Unit untuk melakukan Water-boombing diareal kebakaran.



Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan tahun 2018